IMPLEMENTASI METODE KETELADANAN

DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

(Studi Kasus di SD N Kambangan 01 Blado)

Disusun Oleh  :

MOH.ABRORI

NIM : 232 108 052

 

 

JURUSAN TARBIYAH

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) PEKALONGAN

2010


 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebuah ungkapan populer dalam dunia proses belajar mengajar mengatakan bahwa: “metode jauh lebih penting dari materi”. Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar  bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak menggunakan metode. Karena metode menempati posisi kedua terpenting setelah tujuan dari sederetan komponen-komponen pembelajaran: tujuan, metode, materi, media dan evaluasi.

Seiring dengan itu, seorang  pendidik dituntut agar cermat memiliki dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran kepada perserta didik. Karena dalam proses belajar mengajar dikenal ada beberapa macam metode, antara lain: metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, keteladanan, dan lain sebagainya.[1]

Metode yang akan penulis bahas adalah metode keteladanan. Metode ini merupakan metode yang paling unggul dan paling jitu dibandingkan metode-metode lainya. Melalui metode ini para orang tua dan pendidik memberi contoh atau teladan terhadap peserta didiknya bagaimana cara berbicara, berbuat, bersikap, mengerjakan sesuatu atau cara beribadah, dan sebagainya.

Melalui metode ini, peserta didik dapat melihat, menyaksikan dan menyakini cara yang sebenarnya sehingga mereka dapat melaksanakannya dengan lebih baik dan lebih mudah.

Metode keteladanan ini sesuai dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim, sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Nawawi dalam bukunya Shahih Muslim Syarahat al-Kamilu lin-Nawawi, yaitu:

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ

“Mulailah dari diri sendiri”(H.R. Muslim)

Maksud hadits di atas adalah dalam hal kebaikan dan kebenaran, apabila kita menghendaki orang lain juga mengerjakanya, maka mulailah dari diri kita sendiri untuk mengerjakanya.[2]

Sungguh tercela seorang pendidik yang mengajarkan suatu kebaikan kepada peserta didiknya sedangkan ia sendiri tidak menerapkannya dalam kehidupanya sehari-hari. Dalam hal ini Allah mengingatkan dalam firman-Nya Surat Al-Baqoroh ayat 44:

tbrâßDù’s?r& }¨$¨Y9$# ÎhŽÉ9ø9$$Î/ tböq|¡Ys?ur öNä3|¡àÿRr& öNçFRr&ur tbqè=÷Gs? |=»tGÅ3ø9$# 4 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès?  (البقرة: ٤٤)

Artinya : “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan sedang kamu melupakan dirimu sendiri, dan kamu membaca kitab, tidakkah kamu pikirkan? (QS. Al-Baqoroh (2): 44)

 

Firman Allah di atas menjelaskan bahwa seorang pendidik hendaknya tidak hanya mampu memerintah atau memberikan teori kepada peserta didiknya, tetapi lebih dari itu ia harus mampu menjadi panutan bagi peserta didiknya, sehingga mereka dapat mengikutinya tanpa merasakan adanya unsur paksaan.[3]

Tujuan pendidik adalah memberikan teladan yang baik bagi peserta didiknya. Pendidik adalah cermin bagi peserta didik. Semua yang dilakukan pendidik akan ditiru oleh peserta didik. Pendidik harus berhati-hati dalam bersikap karena peserta didik akan selalu menilai semua sikap dan perilaku pendidik. Pendidik yang sopan, otomatis peserta didik akan memiliki sikap sopan pula. Lain halnya dengan pendidik yang pendusta, tidak akan mampu berbicara tentang kejujuran pada peserta didiknya. Begitu pula dengan pendidik yang pemarah, tidak akan mampu mempraktekkan sikap sabar pada peserta didiknya.

Pendidik tidak cukup hanya memberikan prinsip saja untuk menciptakan peserta didik yang soleh, karena yang lebih penting bagi peserta didik adalah figur yang memberikan keteladanan dalam menerapkan prinsip tersebut, sehingga sebanyak apapun prinsip yang diberikan tanpa disertai contoh keteladanan, ia hanya akan menjadi kumpulan resep yang tak bermakna.

Seorang peserta didik, bagaimana pun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimana pun sucinya fitrah, ia tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. Adalah sesuatu yang sangat mudah bagi pendidik, yaitu mengajari peserta didik dengan berbagai materi pendidikan, akan tetapi adalah sesuatu yang teramat sulit bagi peserta didik untuk melaksanakanya ketika ia melihat orang yang memberikan pengarahan dan bimbingan kepadanya tidak mengamalkannya.

Islam telah menjadikan pribadi Rasul sebagai suri teladan bagi seluruh pendidik untuk dapat disalurkan pada peserta didik karena Rasulallah memiliki pribadi yang sempurna. Tiada celah keburukan sedikitpun dalam pribadi Nabi Muhammad saw, oleh karena itu Allah mengutus Nabi Muhammad saw untuk menjadi teladan bagi umat manusia di seluruh dunia. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya surat Al-Ahzab ayat 21:

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqߙu‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.  (الاحزب : ۲۱)

Artinya : “Sunngguh, telah ada pada (diri) Rasulallah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Surat Al-Ahzab: 21)

 

Bila Islam menjadikan suri teladan abadi dari Allah adalah kepribadian Rasul-Nya, maka ia menjadikan kepribadian beliau itu sebagai teladan bagi setiap generasi, terus menerus menjadi suri teladan dan pada setiap peristiwa. Islam tidaklah mempersembahkan suri teladan itu untuk dijadikan Kultus ataupun dambaan kosong dalam lautan khayal.[4]

Keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial peserta didik. Mengingat pendidik adalah seorang figur terbaik dalam pandangan peserta didik, yang tindak tanduk dan sopan santunnya, disadari atau tidak, akan ditiru oleh mereka. Bahkan bentuk perkataan, perbuatan dan tindak tanduknya, akan senantiasa tertanam dalam kepribadian peserta didik.

Proses belajar memang dapat terapai secara maksimal dengan metode, meniru (imitation), seperti seseorang yang meniru orang lain dalam melakukan sesuatu atau meniru mengucapkan sebuah kata. Dengan metode ini seorang peserta didik dapat belalajr bahasa, belajar sopan santun, adapt istiadat, moral dan sifat manusia pada para pendidik.[5]

Oleh karena itu, masalah keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik-buruknya peserta didik. Jika dalam proses belajar mengajar peserta didik sudah diajari berbuat tidak baik, misalnya membiarkannya menyontek pada saat Ujian Nasional agar memperoleh nilai yang baik atau selalu melanggar tata tertib sekolah, maka nantinya peserta didik akan tumbuh menjadi seseorang yang rusak moralnya dan tidak menghargai serta tidak mematuhi peraturan yang ada.

Proses pemberian contoh yang dilakukan oleh pendidik diharapkan dapat membentuk moral peserta didik menjadi lebih baik. Figur yang diteladani oleh peserta didik sekarang ini semakin berkurang, dikarenakan banyak sekali figur yang seharusnya dijadikan contoh tersandung masalah tentang moral. Mulai dari pejabat hingga pendidik. Bisa dilihat di beberapa media, ada salah satu pejabat yang terkena masalah tentang video asusila, begitu juga dengan pendidik yang tertangkap basah melakukan kekerasan terhadap peserta didiknya sendiri. Jika hal ini dilihat dan disaksikan oleh peserta didik akan membekas dan tertanam dalam hati peserta didik.

Berangkat dari uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat tema pokok ini sebagai objek penelitian dalam bentuk skripsi yang berjudul “IMPLEMENTASI METODE KETELADANAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR (Studi Kasus Di SD N Kambangan 01 Blado).

B. Rumusan Masalah

1.      Bentuk-bentuk keteladanan apa saja yang sudah dipraktekkan pendidik SD N Kambangan 01 Blado dalam proses belajar mengajar?

2.      Upaya-upaya pendidik SD N Kambangan 01 Blado dalam penerapan hambatan-hambatan dalam menggunakan metode keteladanan?

3.      Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD N Kambangan 01 Blado?

 

C. Tujuan

1.      Mengetahui bentuk-bentuk keteladanan dalam proses belajar mengajar.

2.      Mengetahui upaya-upaya pendidik SD Negeri Kambangan 01 dalam penerapan metode keteladanan.

3.      Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar.

4.      Mengetahui implementasi metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD N Kambangan 01.

D. Kegunaan Penelitian

Dari segi perumusan masalah diatas, maka kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.       Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi bagi khazanah keilmuan dalam dunia pendidikan. Khususnya tentang metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di sekolah.

b.      Keguanaan Praktis

1.      Bagi Pendidik

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pengetahuan dalam mengembangkan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar.

 

 

 

2.      Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah untuk melakukan kebijakan tentang peningkatan kualitas metode-metode dalam proses belajar mengajar.

E. Tinjauan Pustaka

1.      Analisis Teoritis

Disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa kata “keteladanan” mempunyai akar kata “teladan” yang berarti perbuatan yang patut ditiru dan dicontoh. Jadi, “keteladanan” adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh.[6]

 

Diungkapkan dalam bahasa Arab, bahwa “keteladanan” berasal dari kata “uswah” dan “qudwah”. Pengertian yang diberikan oleh Al-Ashfahani, Sebagaimana dikutip Armai Arief, bahwa menurut beliau “al-uswah” dan “al-Iswah” sebagaimana kata “al-qudwah” dan “al-Qidwah” berarti “suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan”. Senada dengan Al-Ashfahani, Ibn Zakaria mendifinisikan, bahwa “uswah” berarti “qudwah” yang artinya ikutan, mengikuti yang diikuti. Dengan demikian keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud disini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik.[7]

Banyak ahli pendidikan yang berpendapat bahwa pendidikan dengan keteladanan merupakan metode yang paling berhasil guna. Hal itu karena dalam belajar, orang pada umumnya, lebih mudah menangkap yang kongkrit ketimbang yang abstrak. Abdullah Nasikh Ulwan, Sebagaimana dikutip Hery Noer Aly,  umpamanya mengatakan bahwa pendidik barang kali akan merasa mudah menkomunikasikan pesannya secara lisan. Namun, peserta didik akan merasa kesulitan dalam memahami pesan itu apabila ia melihat pendidikannya tidak memberi contoh tentang pesan yang disampaikanya.[8]

Kepentingan penggunaan keteladanan juga terlihat dari teguran Allah terhadap orang-orang yang menyampaikan pesan tetapi tidak mengamalkan pesan itu. Allah menjelaskan:

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 šcqä9qà)s? $tB Ÿw tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uŽã9Ÿ2 $ºFø)tB y‰YÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB Ÿw šcqè=yèøÿs? ÇÌÈ  (الصف : ٢- ٣)

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan (QS. Al-Shaff (61): 1-3)

 

Menurut Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam dijelaskan, bahwa syarat-syarat pendidik dalam pendidikan Islam salah satunya adalah harus berkesusilaan. Syarat ini sangat penting dimiliki untuk melaksanakan tugas mengajar. Pendidik tidak mungkin memberikan contoh-contoh kebaikan bila ia sendiri tidak baik perangainya.[9]

Menurut Ibnu Sina sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir, juga mengatakan bahwa sifat yang harus dimiliki oleh pendidik adalah sopan santun. Perangai pendidik yang baik akan berpengaruh bagi pembentukan kepribadian peserta didik. Mereka belum menjadi manusia dewasa, kepribadiannya masih dalam proses pembentukan dan rentan akan perubahan-perubahan yang terjadi di luar diri peserta didik. Pada masa modern sekarang ini terjadi pergeseran nilai-nilai pada setiap ruas-ruas dan sendi-sendi kehidupan manusia.[10] Mereka masih mudah terpengaruh dan mudah mengikuti arus globalisasi yang cenderung mengerikan. Yang dianehkan lagi, mereka lebih cepat meniru hal-hal yang tidak baik ketimbang hal yang baik. Apalagi sekarang marak sekali video-video asusila yang beredar di internet yang bisa merusak moral anak bangsa. Menurut hemat penulis, sekaranglah waktunya bagi pendidik untuk maju membentuk generasi-generasi bangsa yang bermoral, berakhlak mulia, memiliki tutur sapa yang bagus dan berkepribadian muslim.

Pada hakikatnya Islam tidak menentang perubahan, kemajuan dan kemodernan. Namun sebaliknya, Islam mengharuskan umatnya untuk terus maju. Zaman modern merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan keteguhan iman dan prinsip yang kuat serta tidak merasa asing melihat pembaharuan dan kemajuan yang begitu pesat. Asalkan perubahan, kemajuan dan kemodernan tersebut mengarah ke hal yang positif.[11]

Pada saat ini, hal yang harus diperhatikan secara serius yaitu fenomena yang dewasa ini muncul, yakni tentang dilemma yang dihadapi oleh pendidikan model Barat. Disatu sisi, pendidikan model barat terbukti berhasil maksimal mengeksploitasi potensi intelektual manusia, sehingga kemudian melahirkan berbagai teknologi yang canggih. Namun disisi lain, pendidikan model Barat melupakan, jika tidak mau disebut gagal, perubahan aspek moral, spiritual manusia. Alhasil, manusia modern dengan dunia teknologi berhasil diciptakan, akan tetapi jiwa-jiwa mereka mengalami krisis moral-spiritual.[12]

Kemajuan teknologi juga berdampak pada perilaku peserta didik seiring dengan kemajuan IPTEK. Hal ini memberi dampak yang sangat besar terhadap perilaku peserta didik yang semakin menjurus terhadap hal-hal yang bersifat negatif. Pola-pola perilaku peserta didik kecenderungan melenceng dari koridor-koridor akhlak mulia.[13]

Begitu juga menurut al-Abrasyi dan Al-Attas, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir, mengemukakan bahwa tujuan dari pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berakhlak mulia dan membentuk manusia yang baik.[14] Kata baik di sini mencakup baik sifatnya dan perilakunya.

2.       Kerangka Berfikir

Dalam proses belajar mengajar banyak sekali metode yang digunakan, salah satunya adalah metode keteladanan. Keteladanan yaitu pemberian contoh yang dilakukan oleh pendidik untuk ditiru oleh peserta didiknya. Peniruan yang dimaksud di sini adalah peniruan dalam hal yang baik, bukan hal yang buruk.

Di sini pendidik dituntut untuk tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja, tapi juga menjadi suri teladan bagi peserta didiknya. Seperti semboyan yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu, “Ing Ngarsa Sung Tuladha” yang artinya adalah di depan seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh yang baik.

Sebagai pendidik hendaklah menjaga tingkah lakunya ketika berhadapan dengan peserta didik, maupun ketika tidak berhadapan dengan peserta didik. Karena semua tingkah laku pendidik akan dinilai oleh peserta didiknya.

Seorang pendidik yang tidak bisa menjaga perilakunya tidak akan bisa mentransfer nilai nilai filosofis dari sebuah pendidikan. Oleh karena itu, setiap pendidik harus dapat melaksanakan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar yang dilakukanya agar tujuan pendidikan Islam dapat tercapai secara optimal. Sehingga dapat membentuk kepribadian peserta didik yang berakhlakul karimah.

F. Metode Penelitian

Metode Penelitian adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam proses penelitian. Melalui metode penelitian, diharapkan akan dapat mencapai hasil yang diinginkan. Di bawah ini akan dijelaskan mengenai beberapa metode yang digunakan penulis dalam penelitian tentang implementasi metode keteladanan dalam proses belajar mengajar.

1.      Desain Penelitian

a.       Pendekatan penelitian

Pada penelitian ini yang peneliti gunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang menekankan pada proses, bukan hasil. Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif & induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah.[15]

b.      Jenis penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) dan merupakan penelitian deskriptif. Penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan, artinya tidak untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.[16]

2.      Wujud Data

Semua sifat, sikap dan perilaku pendidik di dalam maupun di luar kelas (sekolah), bagi pendidik yang mengajar di SD Negeri Kambangan 01, sejumlah 10 orang.

3.      Teknik Pengumpulan Data

a.       Interview

Teknik interview yaitu suatu dialog pewancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara.[17]. dalam hal ini peneliti menggunakan interview bebas terpimpin, yaitu penginterview membawa kerangka pertanyaan untuk disajikan, tetapi bagaimana pertanyaan diajukan dan irama interview diserahkan kepada kebijaksanaan pewancara.

Sebagai alasan adalah pihak yang diinterview dapat bebas memberi  jawaban, sehingga akan diperoleh data secara mendalam. Dalam pihak peneliti dapat menyerahkan secara langsung pokok persoalan yang sebenarnya. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang pelaksanaan penelitian tentang Implementasi Metode Keteladanan dalam Proses Belajar Mengajar di SD N Kambangan 01 Blado.

 

b.      Teknik Observasi

Teknik observasi adalah teknik ilmiah yang biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis fenomena-fenomena yang terjadi. Teknik observasi ini digunakan untuk mengamati secara langsung pelaksanaan proses belajar mengajar di SD N Kambangan 01 Blado.

c.       Studi Dokumentasi

Yaitu mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger, agenda dan sebagainya.[18]

4.      Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitataif. Metode analisis deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan bagaimana pelaksanaan metode keteladanan di SD N Kambangan 01Blado

G. Sistematika Penulisan Skripsi

Penulis ingin menguraikan skripsi ini tentang “Implementasi Metode Keteladanan Dalam Proses Belajar Mengajar (Studi Kasus di SD N Kambangan 01 Blado)”. Seluruh tulisan skripsi ini akan diuraikan dalam bab demi bab, sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan Berisi tentang: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Penulisan Skripsi.

Bab II Metode Keteladanan dan Proses Belajar Mengajar. Bagian pertama berisi tentang: pengertian Metode Keteladanan, bentuk-bentuk keteladanan, Faktor-faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan metode keteladanan,. Bagian kedua berisi tentang proses belajar mengajar, yang meliputi pengertian belajar mengajar, hakekat belajar mengajar, ciri-ciri belajar mengajar, komponen-komponen belajar mengajar.

Bab III Pelaksanaan metode Keteladanan dalam Proses Belajar Mengajar di SD N Kambangan 01. uraianya berisi tentang: situasi Umum SD N Kambangan 01, yang terdiri dari: Tinjauan historis, visi dan misi sekolah, program-program sekolah, prestasi-prestasi sekolah, kegiatan ekstrakurikuler. Kedua berisi tentang: pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD N Kambangan 01, yang terdiri dari: Bentuk-bentuk keteladanan, faktor pendukung dan penghambat metode keteladanan, upaya- upaya yang dilakukan pendidik SD Kambangan 01 mengatasi hambatan dalam menggunakan metode keteladanan.

Bab IV Analisis Hasil Penelitian. Berisi tentang: Analisis Implementasi Metode Keteladanan dalam Proses Belajar Mengajar, yang meliputi: bentuk-bentuk keteladanan, faktor pendukung dan penghambat metode keteladanan. upaya- upaya yang dilakukan pendidik SD Kambangan 01 mengatasi hambatan dalam menggunakan metode keteladanan.

Bab V Penutup Berisi tentang: kesimpulan dan Saran.

 

 

BAB II

METODE KETELADANAN DAN PROSES

BELAJAR MENGAJAR

 

A. Metode Keteladanan

1.      Pengertian Metode Keteladanan

Pengertian metode secara etimologi, berasal dari dua kata, yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui” dan hodos berarti “jalan” atau “cara”. Menurut Ahmad Husain al-Liqany, sebagaimana dikutip oleh Ramayulis, Metode adalah “langkah-langkah yang diambil pendidik guna membantu para peserta didik merealisasikan tujuan tertentu”. Dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah thoriqah yang berarti langkah-langkah strategis yang harus dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan, maka langkah tersebut harus diwujudkan dalam proses pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian. Dengan demikian dapat dipahami bahwa metode merupakan cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.[19]

Pengertian keteladanan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata “keteladanan” mempunyai akar kata “teladan” yaitu perbuatan yang patut ditiru dan dicontoh. Jadi “keteladanan” adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh.[20]

 

Kata “keteladanan” dalam bahasa Arab diungkapkan dengan kata “Uswah” & “qudwah”. Menurut Al-Asyfahani sebagaimana dikutip oleh Armai Arief, bahwa menurut beliau “al-uswah” dan “al-iswah” sebagaimana kata “al-qudwah” dan “al-qidwah” berarti “suatu keadaan ketika seorang manusia mengikuti manusia lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, atau kejahatan. Senada dengan Al-Ashfahani, Ibn Zakaria dalam buku Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam karya Armai Arief mendefinisikan kata “uswah” berarti “qudwah” yang berarti ikutan, mengikuti yang diikuti”. Dengan demikian keteladanan adalah hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh oleh seseorang dari orang lain. Namun keteladanan yang dimaksud di sini adalah keteladanan yang dapat dijadikan sebagai alat pendidikan Islam, yaitu keteladanan yang baik. [21]

Dari Pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metode keteladanan adalah suatu metode pendidikan dengan cara memberikan contoh yang baik kepada para peserta didik, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.[22]

2.      Bentuk-bentuk Keteladanan

Di bawah ini akan dijelaskan bentuk-bentuk keteladanan sebagai berikut:

a.       Keteladanan disengaja

Keteladanan kadang kala diupayakan dengan cara disengaja, yaitu pendidik sengaja memberi contoh yang baik kepada para peserta didiknya supaya mereka dapat menirunya. Umpamanya pendidik memberikan contoh bagaimana cara membaca yang baik agar para peserta didik menirunya.

Dalam proses belajar mengajar, keteladanan yang disengaja dapat berupa pemberian secara langsung kepada peserta didiknya melalui kisah-kisah nabi yang di dalam kisah tersebut terdapat beberapa hal yang patut dicontoh oleh para peserta didik.

b.      Keteladanan tidak disengaja

Keteladanan ini terjadi ketika pendidik secara alami memberikan contoh-contoh yang baik dan tidak ada unsur sandiwara didalamnya. Dalam hal ini, pendidik tampil sebagai figur yang dapat memberikan contoh-contoh yang baik di dalam mampu di luar kelas. Bentuk pendidikan semacam ini keberhasilannya banyak bergantung pada kualitas kesungguhan dan karakter pendidik yang diteladani, seperti kualitas keilmuannya, kepemimpinannya, keikhlasannya, dan sebagainya. Dalam kondisi pendidikan seperti ini, pengaruh teladan berjalan secara langsung tenpa disengaja. Oleh karena itu, setia orang yang diharapkan menjadi pendidik hendaknya memelihara tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah dan segala hal yang diikuti oleh peserta didik sebagai pengagumnya. Semakin tinggi kualitas pendidik akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan pendidikannya.[23]

 

3.      Faktor-faktor Pendukung dan Pengahambat Metode Keteladanan

Setiap kegiatan yang dilakukan pasti ada hal-hal yang mendukung dan mengambat jalannya proses kegiatan tersebut. Sama halnya dalam menjalankan suatu metode dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di bawah ini akan dijelaskan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat Metode Keteladanan di sekolah.

a.       Faktor pendukung metode keteladanan

1)      Agar tujuan pendidikan Islam lebih terarah dan tercapai dengan baik.

Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam. Pendidik diharapkan memiliki tingkah laku yang baik dan dapat memberikan contoh pada peserta didiknya.

2)      Mendorong pendidik agar selalu berbuat baik karena akan dicontoh oleh peserta didiknya.

Pendidik senantiasa berbuat baik di dalam maupun di luar kelas, karena pendidik itu ibaratnya adalah cermin yang selalu dicontoh oleh peserta didiknya, baik sikap, sifat dan perilakunya.Pendidik Akan merasa malu jika salah satu dari peserta didik melihat ada tingkah laku pendidik yang tidak baik diketahui oleh mereka, karene itu pendidik harus berhati-hati dalam bersikap. Hal ini akan mendorong pendidik untuk berfikir dua kali ketika akan mengambil sikap.

3)      Tercipta hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik.

Pendidik yang senantiasa bersikap baik pada peserta didik tentunya mereka akan lebih menghormati dan menyukai pendidik tersebut, dibandingkan dengan pendidik yang kurang perhatian pada peserta didiknya. Peserta didik akan lebih akrab dengan pendidik yang terbuka dan yang menyenangkan untuk dijadikan teman ngobrol dan bertukar cerita tentang kehidupan mereka masing-masing.

b.      Faktor penghambat metode keteladanan

1)      Jika figur yang peserta didik contoh tidak baik, maka mereka cenderung untuk mengikuti tidak baik.

Pendidik adalah penuntun bagi semua peserta didik karena semua tingkah lakunya akan ditiru oleh mereka. Semua orang yang akan menjadi pendidik diharuskan memiliki tingkah laku yang baik. Apabila pendidik yang tidak memiliki perangai yang baik akan berdampak buruk bagi perkembangan kepribadian peserta didik. Peserta didik cenderung akan meniru semua yang dilakukan oleh pendidik.

Dari beberapa fakta yang ada sesuatu yang tidak baik akan cepat tertanam dalam hati peserta didik dari pada hal yang baik, terasa amat sulit mencontoh yang baik karena banyak sekali godaan yang datang, sehingga peserta didik enggan meniru hal-hal yang baik.

Pendidik adalah seseorang yang bertanggung jawab dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Di lingkungan rumah yang bertindak sebagai pendidik adalah orang tua (ayah dan ibu) peserta didik. Pendidik utama yang sangat berperan aktif dalam hal pendidikan peserta didik baik dalam bidang pendidikan agama maupun pendidikan akademis, khususnya di bidang pendidikan budi pekerti bagi peserta didik. Di lingkungan sekolah, yang berperan sebagai pendidik adalah bapak dan ibu guru di sekolah, orang tua kedua setelah ayah dan ibu di rumah. Tidak hanya pendidik saja yang bertanggung jawab memberikan keteladanan dan pendidikan akhlak pada peserta didik, tapi seluruhpihak sekolah harus ikut serta dalam pemberian pendidikan keteladanan dan pemberian setelah pada peserta didik. Keberhasilan dunia pendidikan diantaranya adalah sejauh mana peserta didik dan stakeholders lainya secara peserta didik demi terwujudnya peserta didik yang berkepribadian baik dan berakhlakul karimah.[24] Kedua figur tersebut, ayah dan ibu serta bapak dan ibu guru, harus menjadi suri teladan yang baik agar peserta didik tidak salah dalam memilih idola.

2)      Teori tanpa praktek akan menimbulkan verbalisme.

Materi pelajaran adalah sesuatu yang sangat penting untuk diajarkan kepada para peserta didik. Materi pelajaran adalah satu dari sekian banyak komponen belajar mengajar yang harus dipenuhi. Proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar apabila tidak ada materi yang diajarkan.

Materi yang sudah disampaikan kepada peserta didik sebaiknya diamalkan juga oleh pendidik karena teori tanpa praktik akan menimbulkan verbalisme. Akan teramat sulit bagi peserta didik untuk melaksanakannya ketika mereka melihat pendidik tidak mengamalkannya.

B. Proses Belajar Mengajar

1.      Pengertian Belajar Mengajar

Para ahli pendidikan berbeda pendapat dalam merumuskan definisi belajar mengajar yang disebabkan oleh adanya perbedaan dalam mengidentifikasi data; menafsirkan fakta; penggunaan teknologi dan konotasi istilah; penekanan terhadap aspek-aspek tertentu.

Menurut M. Arifin dalam bukunya Ramayulis yang berjudul Ilmu Pendidikan Islam, mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan peserta didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pendidik, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan itu.[25] Pengertian belajar yang dikemukakan M. Arifin di atas menurut penulis adalah suatu kegiatan belajar mengajar yang merubah peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu (aspek kognitif). Suatu materi yang belum diketahui maupun yang belum dikuasai akhirnya dapat diketahui dan dapat dikuasai dengan baik melalui proses belajar tersebut.

Sedangkan menurut Oemar Hamalik, belajar adalah mengidentifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or streng the being behaviour through experiencing). Pengertian belajar di sini menitik beratkan pada proses perubahan tingkah laku peserta didik.[26]

Hampir sama dengan Oemar Hamalik, Slameto mendefinisikan belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya.[27]

Belajar bukan sekedar penguasaan bahan pelajaran saja, akan tetapi terjadinya perubahan tingkah laku peserta didik sehingga terbentuk suatu kepribadian yang baik. Perubahan tingkah laku dapat terjadi karena dua hal yakni:

a.       Faktor intern, yaitu faktor dimensi dalam menerima perubahan

b.      Faktor ekstern, yaitu lingkungan yang dapat merangsang, menunjang dan memperlancar proses belajar.

Seseorang yang benar-benar berilmu adalah apabila ilmunya tersebut mampu membuat dirinya menjadi orang yang lebih baik dalam segala hal, baik itu tingkah lakunya, sifatnya, maupun cara berfikirnya. Ilmu itu tidak hanya dijadikan belaka saja, tetapi mampu mengarahkannya ke jalan yang lebih baik.

Menurut M. Arifin sebagaimana dikutip oleh Ramayulis, merumuskan pengertian mengajar sebagai suatu kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada peserta didik agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran tersebut. Mengajar mengandung tujuan agar peserta didik dapat memperoleh pengetahun yang kemudian dapat mengembangkan dengan pengembangan pengetahuan itu peserta didik mengalami perubahan tingkah laku.

S. Nasution dalam buku Metodologi Pembelajaran Agama Islam karya Basyirudin Usman merumuskan pengertian mengajar sebagai berikut:

a.       Mengajar ialah menanamkan pengetahuan kepada peserta didik

b.      Mengajar ialah menyampaikan kebudayaan kepada peserta didik, dan

c.       Mengajar ialah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungannya dengan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan peserta didik sehingga terjadi proses belajar mengajar.

Definisi mengajar yang dikemukakan di atas tersebut mengandung pemahaman sebagai berikut:

Definisi pertama; mengajar bertujuan agar peserta didik dapat menguasai pengetahuan yang diberikan oleh pendidik, di mana peserta didik hanya bersifat pasif, sedangkan pendidik bersifat aktif. Pengajaran demikian disebut “teacher centeral”.

Definisi kedua; sama halnya dengan definisi pertama, dimaksudkan agar peserta didik dapat mengenal kebudayaan bangsa dan dunia, bahkan agar peserta didik tidak hanya sekedar mengenal kebudayaan tetapi turut menciptakan kebudayaan yang baru sesuai dengan tuntutan zaman yang selalu berubah.

Definisi ketiga; berbeda dengan yang pertama dan yang kedua, yakni suatu usaha pendidik untuk mengatur dan mengorganisir lingkungan sehingga dapat  tercipta suatu situasi dan kondisi yang baik bagi peserta didik dalam belajar. Dengan demikian peserta didik dapat belajar secara aktif dan pendidik berperan sebagai pembimbing dan pengorganisir terhadap kondisi belajar peserta didik. Pengajaran ini dinamakan dengan “ Pupil Centered” dan peran pendidik disebut sebagai “Manajer Of Learning”.[28]

2.      Hakikat Belajar Mengajar

Peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar adalah sebagai subyek dan sebagai obyek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar peserta didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika peserta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik di sini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik peserta didik yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya peserta didik tidak belajar, karena peserta didik tidak merasakan perubahan di dalam dirinya. Padahal belajar pada hakikatnya adalah “Perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya aktifitas belajar.

Perubahan yang terjadi pada peserta didik tidak semuanya bisa dikategorikan belajar, misalnya, perubahan fisik, sombong, pemboros dan sebagainya. Perubahan yang dikategorikan belajar adalah perubahan yang mengarah ke hal-hal yang bersifat baik. Bahwa ilmu yang dimiliki dapat mengubah seseorang kearah yang lebih baik.

Pendidik dalam proses belajar mengajar sangat berperan penuh dalam perubahan yang dialami peserta didik. Disini, pendidik diharapkan mampu mengubah peserta didik kearah yang lebih baik dengan menggunakan metode yang berhasil guna agar tujuan hakikat belajar mengajar dapat terealisasikan.

Salah satu dari beberapa metode yang dapat digunakan untuk merealisasikan hakekat belajar yaitu proses “Perubahan yang dilakukan oleh pendidik adalah metode keteladanan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam yaitu menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran islam.

Oleh karena itu metode keteladanan disini memberikan pembelajaran yang berupa pemberian contoh agar terjadi perubahan dalam dirinya dalam hal perubahan akhlak dan tingkah lakunya mejadi lebih baik.

3.      Ciri-Ciri Belajar Mengajar

Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri tertentu, menurut Edi Suradi sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain sebagai brikut :

a.       Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk peserta didik dalam suatu perkembangan tertentu. Inikah yang dimaksud kegiatan belajar mengajar itu sadar akan tujuan, dengan menempatkan peserta didik sebagai pusat perhatian. Tujuan yang telah ditentukan sebelumnya tersebut dapat dijadikan pedoman bagi pendidik untuk menentukan sasaran pembelajaran sehingga setelah peserta didik mempelajari pokok bahasan yang diajarkan, mereka dapat memiliki kemampuan.

b.      Ada suatu prosedur (Jalannya Interaksi) yang direncanakan, di desain untuk mencapai tujuan yang telah diteetapkan. Agar dapat  mencapai tujuan secara optimal, maka dalam melakukan interaksi perlu ada prosedur atau langkah-langkah sistematik dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur dan desain yang berbeda pula.

c.       Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi khusus. Dalam hal ini materi harus di desain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan, sudah barang tentu dalam hal ini perlu memperhatikan komponen-komponen yang lain, apalagi komponen peserta didik yang merupakan sentral. Materi harus sudah di desain dan disiapkan sebelum berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

d.      Ditandai dengan aktivitas peserta didik. Sebagai konsekuensi, bahwa peserta didik merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Aktivitas peserta didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif. Inilah yang sesuai dengan konsep cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA pada hakikatnya adalah suatu konsep dalam mengembangkan proses belajar mengajar baik yang dilakukan oleh pendidik maupun peserta didik. Dalam CBSA tampak jelas adanya pendidik aktif mengajar di satu pihak dan peserta didik aktif belajar di pihak lain, konsep ini bersumber pada teori kurikulum “Child Centeral Curiculum”.

e.       Pendidik dalam kegitan belajar mengajar berperan sebagai pembimbing. Dalam perannya sebagai pembimbing, pendidik harus berusaha menghidupkan dan memberikan motivasi yang kondusif.. Pendidik bersiap sebagai mediator dalam proses belajar mengajar, sehingga pendidik merupakan tokoh yang dilihat dan ditiru tingkah lakunya oleh peserta didik.

f.        Kegiatan belajar mengajar membutuhkan kedisiplinan

Disiplin dalan kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah di taati oleh pihak pendidik maupun peserta didik dengan sadar. Mekanisme konkret dari ketaatan pada ketentuan atau tata tertib itu akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Jadi langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah di gariskan penyimpangan dari prosedur berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.

g.       Ada batas waktu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (Kelompok Peserta didik) batas  waktu mejadi  salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu sudah harus tercapai.

h.       Evaluasi dari seluruh kegiatan di atas, masalah evaluasi adalah bagian penting yang tidak bisa diabaikan, setelah pendidik melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Evaluasi harus pendidik lakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang telah ditentukan.

 

 

 

4.      Komponen-Komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat dan sumber serta evaluasi.

Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut :

a.       Tujuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa.

Sebagai unsur penting untuk suatu kegiatan maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak bisa diabaikan. Demikian juga halnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan kegiatan belajar mengajar adalah suatu cita-cita yang dicapai dalam kegiatannya. Kegiatan belajar mengajar tidak bisa dibawa sesuka hati, kecuali untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Tujuan dalam pendidikan dalam pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif dengan perkataan lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada  peserta didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara peserta didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya, baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Tujuan adalah komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefesien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b.      Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, pendidik yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada peserta didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh pendidik sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang pendidik agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini bisaanya bahan yang terlepas dari disiplin keilmuan pendidik, tetapi dapat digunakan sebagai penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua peserta didik.

Bahan pelajaran harus diajarkan secara tuntas oleh pendidik, jangan sampai ada yang ketinggalan karena akan berdampak pada sukses  atau tidaknya proses belajar mengajar. Bisaanya aktivitas peserta didik akan berkurang bila bahan pelajaran yang pendidik berikan tidak atau kurang menarik perhatiannya, disebabkan cara mengajar yang mengabaikan prinsip-prinsip mengajar, seperti apersepsi, korelasi, dan lain-lain.

c.       Kegiatan Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegaiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Pendidik dan peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar, terlibat secara langsung dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Dalam interaksi itu peserta didiklah yang lebih aktif, bukan pendidik. Pendidik  hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator. Inilah sistem pengajaran yang dikehendaki dalam pengajaran dengan pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) dalam pendidikan modern. Kegiatan belajar megajar pendekatan CBSA mengendaki aktivitas peserta didik seoptimal mungkin. Keaktifan peserta didik menyangkut kegiatan fisik dan mental. Aktivitas peserta didik bukan hanya secara individual, tetapi juga dalam kelompok sosial. Aktivitas peserta didik dalam kelompok sosial akan membuahkan interaksi dalam kelompok. Interaksi dikatakan maksimal bila interaksi itu terjadi antara pendidik dengan semua peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.

Dalam kegiatan belajar mengajar, pendidik sebaiknya memperhatikan perbedaan individual peserta didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksudkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap peserta didik secara individual. Peserta didik sebagai individu memiliki perbedaan dalam hal sebagaimana disebutkan di atas. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan pendidik dengan peserta didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan penguasaan dalam proses belajar mengajar. Menurut Muhamad Ali dalam buku Strategi Belajar Mengajar karya Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain Mastery Learning adalah satu strategi belajar mengajar pendekatan indivual. Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain Mastery Learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan, yaitu program pengayaan dan program perbaikan.

Menurut hemat penulis, keberhasilan kegiatan belajar mengajar ditentukan dari baik dan buruknya program pengajaran yang telah dilakukan dan pengaruhnya terhadap tujuan yang akan dicapai.

d.      Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh pendidik dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang pendidik tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila ia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan.

Pendidik tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode saja, tetapi pendidik sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian peserta didik. Tetapi juga penggunaan metode yang bervariasi tidak akan menguntungkan kegiatan belajar bila penggunaannya tidak tepat dan sesuai dengan situasi yang mendukungnya dan dengan kondisi psikologi peserta didik. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi pendidik diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila pendidik mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaanya. Menurut Winarto Surakhamad, sebagaimana dikuti oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengemukakan lima macam faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar sebagai berikut :

1)      Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya.

2)      Peserta didik dengan berbagai tingkat kematangannya.

3)      Situasi dengan berbagai-bagai keadaannya.

4)      Fasilitas dengan berbagai kualitas dan kuantitasnya.

5)      Pribadi pendidik serta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda.

e.       Alat

Menurut Ahamda D. Marimba, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan dalam mencapai tujuan pengajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan.

Alat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Yang dimaksud dengan alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya. Ahli lain membagi alat pendidikan dan pengajaran menjadi alat material dan nonmaterial.

Alat material termasuk alat bantu audiovisual di dalamnya. Penggunaan alat bantu audiovisual dalam proses belajar mengajar sangat didukung oleh Dwyer, salah satu tokoh aliran Realisme. Aliran realisme berasumsi bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika digunakan bahan-bahan audiovisual yang mendekati realitas. Menururt Miller, dkk. Sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain lebih banyak sifat bahan audiovisual yang menyerupai realisasi makin mudah terjadi proses belajar. Karenanya, ada kecenderungan dari pihak pendidik untuk memberikan bahan pelajaran sebanyak mungkin dengan memberikan penjelasan yang mendekati realisasi kehidupan dan pengalaman peserta didik.

Sebagai alat Bantu dalam pendidikan dan pengajaran, alat material (audiovisual) mempunyai sifat sebagai berikut:

1)      Kemampuan untuk meningkatkan persepsi

2)      Kemampuan untuk meningkatkan pengertian

3)      Kemampuan untuk meningkatkan transfer (pengalihan) belajar

4)      Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcement) atau pengetahuan hasil yang dicapai

5)      Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan)

Dari uraian tersebut, jelaslah bahwa alat tidak bisa diabaikan dalam program pengelolaan pengajaran.

f.        Sumber Pelajaran

Belajar mengajar, telah diketahui, bukanlah berproses dalam kehampaan, tetapi berproses dalam kemaknaan, di dalamnya ada sejumlah nilai yang disampaikan kepada peserta didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber guna dipakai dalam proses belajar mengajar.

Menurut Udin Saripuddin Winataputra dan Rustana Ardiwinata sebagaimana yang dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain yang dimaksud dengan sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.

Menurut Sudirman N., dalam buku Strategi Belajar Mengajar karya Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zein, Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana: di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Pemanfaatan sumber-sumber pengajaran tersebut tergantung pada kreativitas pendidik, waktu, biaya, serta kebijakan-kebijakan lainnya.

Para ahli sepakat dalam mengemukakan sumber-sumber belajar adalah segala sesuatu dapat diperguanakan sebagai sumber belajar sesuai dengan kepentingan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Roestiyah, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah :

1)      Manusia (dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat)

2)      Buku/perpustakaan.

3)      Mass Media (majalah, surat kabar, radio, tv dan lain-lain).

4)      Lingkungan

5)      Alat pengajaran (buku pelajaran, peta, gambar, kaset, tape, papan tulis, kapur, spidol, dan lain-lain).

6)      Museum (tempat penyimpanan benda-benda kuno)

Sudirman N, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengatakan bahwa sumber-sumber belajar itu adalah :

1)      Manusia (people).

2)      Bahan (Materials).

3)      Lingkungan (Setting).

4)      Alat dan perlengkapan (tool and equipment).

5)      Aktivitas (Activities).

a)      Pengajaran berprogram.

b)      Simulasi.

c)      Karyawisata.

d)      Sistem pengajaran modul.

Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya meliputi :

a)      Tujuan khusus yang harus dicapai oleh peserta didik.

b)      Materi (bahan pengajaran) yang harus dipelajari

c)      Aktivitas yang harus dilakukan oleh peserta didik untuk mencapai tujuan pengajaran.

g.       Evaluasi

Istilah evaluasi berasal dari bahasa inggris, yaitu evaluation. Dalam buku Essentials Of Educational Evaluation karangan Edwin Wand dan Gerald W. Brown, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, dikatakan bahwa evaluation refer to the act or prosess to determining the value of something. Jadi, menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Sesuai dengan pendapat di atas, maka menurut Wayan Nurkancana dan P.PN Sumartana, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sebagai sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.

Berbeda dengan pendapat tersebut, Roestiyah N.K, sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas peserta didik guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar peserta didik yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.

Dari kedua pengertian evaluasi tersebut, dapat diketahui tujuan penggunaan evaluasi. Tujuan evaluasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. L. Pasaribu dan Simanjuntak sebagaimana dikutip oleh Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, menegaskan bahwa :

1)      Tujuan umum dari evaluasi adalah :

a)      mengumpulkan data-data yang membuktikan taraf kemajuan peserta didik dalam mencapai tujuan yang diharapkan

b)      Memungkinkan pendidik menilai aktivitas/pengalaman yang di dapat

c)      Menilai metode mengajar yang dipergunakan

2)      Tujuan khusus dari evaluasi adalah :

a)      Merangsang kegitan peserta didik.

b)      menemukan sebab-sebab kemajuan atau kegagalan.

c)      Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat peserta didik yang bersangkutan.

d)      Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan peserta didik yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan

e)      Untuk memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar. [29]

 

 

 

 

BAB III

PELAKSANAAN METODE KETELADANAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SD NEGERI KAMBANGAN 01

 

A. Situasi Umum SD N Kambangan 01

1.      Tinjauan Historis

SD Negeri Kambangan 01, berada di Desa Kambangan, kelurahan Kambangan, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, dengan batas-batas sebagai berikut:

a.   Sebelah Timur              :   Pemukiman Penduduk Desa Kambangan

b.  Sebelah Selatan            :   Pemukiman Penduduk Desa Kambangan

c.   Sebelah Barat               :   Lapangan Sepak Bola

d.  Sebelah Utara               :   Persawahan

Desa Kambangan memiliki 6 Dukuh yang wilayahnya cukup luas yaitu Dukuh Prigi, Dukuh Kemloko, Dukuh Kebunagung, Dukuh Mijen Sari, Dukuh Wedi Sari, dan Dukuh Kambangan. Mata pencaharian warga sebagian besar adalah menjadi seorang petani.

42

Sekolah pertama yang ada di Desa Kambangan yaitu SR (Sekolah Rakyat) yang bertempat di Dukuh Prigi. Peserta didik masih jauh dari cukup, yaitu sekitar 7 peserta didik tiap kelas. SR sempat istirahat sejenak dikarenakan sekolahnya tersebut dirobohkan oleh para penjajah. Dampak dari kejadian tersebut cukup besar yaitu rasa takut yang cukup besar dirasakan oleh para peserta didik sehingga mereka tidak berani untuk masuk sekolah sementara waktu.

Tahun 1947, berdirilah SD Negeri Kambangan 01 dengan Kepala Sekolah, Bapak Rilwal.P. pada saat itu syarat masuk SD Negeri Kambangan 01 rata-rata berusia 7 tahun.

Peserta didik yang bersekolah sangat banyak hingga dalam tiap kelas berisi 100 peserta didik, menjadi kelas gemuk yang cukup menjadi masalah internal bagi pihak sekolah. Masalah ini harus segera diatasi, karena kalau tidak akan berdampak buruk bagi semua peserta didik.

Tahun 1979, setelah pihak sekolah bermusyawarah dan saling beradu argumen, akhirnya memutuskan untuk mendirikan SD Negeri Kambangan 02 sebagai solusi dari masalah yang dihadapi pihak sekolah SD Negeri Kambangan 01 Peserta didik masih membludak tiap tahunnya. Pihak sekolah memutuskan untuk mendirikan sekolah lagi yaitu pada tahun 1983, berdirilah SD Negeri Kambangan 03.

Setelah Pak Rilwal P. memimpin SD negeri Kambangan 01, tampuk kekuasaan berturut-turut diserahkan kepada Pak Carto, Pak Joyo Dikromo, Pak Raharjo dan Pak Sunarjo. Hingga tahun 2010 awal sekarang SD Negeri Kambangan 01, dipimpin oleh Pak Sadiman. Pemimpin yang sangat tegas, berwibawa, sangat peduli pada peserta didiknya, dan demi kemajuan SD Negeri Kambangan 01, serta pemimpin yang disiplin dan bertanggung jawab.

Selain kepala sekolah yang berwibawa tersebut SD Negeri Kambangan 01 juga memiliki pendidik dan karyawan yang mempunyai loyalitas tinggi. Di bawah ini akan dipaparkan secara terperinci dan jelas data pendidik dan karyawan serta jumlah peserta didik dalam tiga tahun terakhir[30].

Tabel 1

Data Pendidik dan Karyawan

Status Pendidik dan karyawan SD SMP SMA D1 D2 D3 S1 S2 S3 Jml
Guru tetap - - - - 6 - 2 - - 8
Guru tidak tetap - - - - 1 - - - - 1
Guru Bantu - - - - - - - - - -
Tata usaha (WB) - - 1 - - - - - - 1
Penjaga 1 - - - - - - - - 1
Jumlah 11

 

 

Tabel 2

Jumlah Peserta Didik Dalam 3 Tahun Terakhir

Kelas 2008-2009 2009-2010 2010-2011
I 32 42 39
II 36 33 40
III 40 38 32
IV 36 38 36
V 34 36 38
VI 36 36 35
Jumlah 214 219 220

2.      Visi dan Misi Sekolah

a.   Visi

“ Maju berprestasi berbekal IPTEK dan IMTAQ”

b.  Misi

1)      Mrningkatkan sumber daya dan kinerja tenaga pendidikan.

2)      Mewujudkan peserta didik yang cerdas, terampil dan berakhlak mulia.

3)      Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara intensif untuk mencapai tingkat daya serap yang tinggi.

4)      Melaksanakan program pengajaran dengan disiplin dan penuh dedikasi.

5)      Meningkatkan fungsi sarana dan prasarana SD dalam menciptakan pembelajaran sesuai dengan PAIKEM.

3.      Program-program Keteladanan di Sekolah

Tujuan pendidikan islam adalah membentuk peserta didik agar berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran islam yaitu dengan menanamkan taqwa dan akhlak pada peserta didik. Maka dari itu pihak sekolah membuat program-program keteladanan agar para peserta didik mematuhinya dan mempraktekannya. Program-program keteladanan di SD Negeri Kambangan 01 sebagai berikut:

a.       5 S

5 S yang dimaksud disini adalah :

1)      S Pertama yaitu senyum

2)      S Kedua yaitu salam

3)      S Ketiga yaitu sapa

4)      S Keempat yaitu sopan

5)      S Kelima yaitu santun.

b.      Tata Tertib Peserta Didik SD Negeri Kambangan 01

1)      Peserta didik datang di sekolah pukul 06.45 WIB.

2)      Setelah bel tanda masuk berbunyi, peserta didik masuk kelas dengan tertib.

3)      Peserta didik diwajibkan mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh.

4)      Waktu istirahat peserta didik dilarang bermain-main di dalam kelas.

5)      Peseta didik wajib menjaga kebersihan kelas dan lingkungannya.

6)      Peserta didik membuang sampah harus di tempat yang telah disediakan.

7)      Peserta didik yang piket harus datang lebih awal dan bertanggung jawab pada kebersihan kelas masing-masing.

8)      Peserta didik dilarang bermain-main di luar lokasi sekolah.

9)      Peserta didik wajib berpakain sesuai dengan ketentuan

a)      Hari senin dan selasa : pakaian atas putih, bawah merah.

b)      Hari rabu dan kamis : pakaian batik.

c)      Hari jum’at dan sabtu : pakaian pramuka

10)  Peserta didik yang tidak masuk sekolah harus minta izin secara tertulis atau lisan kepada kepala sekolah.

11)  Setiap hari senin dan hari besar Nasional peserta didik wajib mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh sekolah.

12)  Peserta didik yang tidak mematuhi tata tertib akan mendapat sanksi dari sekolah.

Tata tertib diatas terdapat di semua kelas dari kelas I sampai kelas VI. Diharapkan dengan adanya tata tertib tersebut peserta didik dapat menjadi seseorang yang disiplin dan betanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan orang lain.

c.       Ing Ngarsa Sung Tulhadha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani

Memberikan teladan atau contoh tindakan baik. Ing madya mangun karsa berarti di tengah atau diantara peserta didik pendidik harus menciptakan prakarsa dan ide, serta Tut Wuri Handayani berarti dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan.

Semboyan tersebut sangat bermanfaat sekali sebagai media pengingat bagi pendidik agar senantiasa mengamalkannya. Bahwa itulah sebenarnya yang harus dilakukan oleh para pendidik. Selalu berjuang demi untuk kemajuan peserta didik.

 

 

4.      Prestasi – prestasi sekolah

Prestasi yang pernah diraih oleh pesertya didik SD Negeri Kambangan 01, diantaranya :

a.       Juara I Sepak bola se- kecamatan Blado, HUT RI ke-59 tahun 2004

b.      Juara I Kasti putri se- kecamatan Blado, HUT RI ke-59 tahun 2004

c.       Juara I Putri lomba gerak jalan tingkat SD / MI Panitia HUT RI ke-64 Desa Kambangan Kecamatan Blado, Kabupaten Batang

d.      Juara I Sepak bola HUT RI ke-63 PGRI Blado kecamatan Blado, Batang 2008

e.       Juara II putra Lomba gerak jalan tingkat SD / MI Panitia HUT RI ke-64 Desa Kambangan Kecamatan Blado, Kabupaten Batang

f.        Juara II Sepak bola SD / MI HUT kemerdekaan RI ke-61 Kecamatan Blado, Kabupaten Batang tahun 2006

g.       Juara II Karnaval Pelajar HUT RI ke-63 Tingkat Desa Kambangan Tahun 2008

h.       Juara II Putra MTQ pelajar Cabang Tilawah Tingkat Kabupaten Batang 2009 golongan SD / MI

i.         Juara II Seni Tari Putri POPDA SENI SD / MI Kecamatan Blado Tahun 2009

j.        Juara II Karnaval Tingkat Pelajar  dalam rangka memperingati HUT RI ke-61 Desa Kambangan Kecamatan Blado Tahun 2006

k.      Juara III Lompat Jauh Putri POPDA dan SENI SD / MI Kecamatan Blado Kabupaten Batang Tahun 2007

l.         Tergiat II putri Jambore Ranting tingkat SD / MI Kecamatan Blado Tahun 2009

m.     Juara III Kid’s Atletik Formula 1 Beregu POPDA SD / MI Kecamatan Blado Tahun 2010

n.       Barung Tergiat III PUTRA PESTA SIAGA Kwartir Ranting Blado Tahun 2010

5.       Kegiatan Ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan yang dilakukan di luar jam sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler besar sekali manfaatnya bagi peserta didik. Mereka dilatih untuk mengeluarkan dan memaksimalkan bakatnya. Memiliki banyak teman serta menemukan hal–hal baru yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya.

SD Negeri Kambangan 01, memiliki beberapa program kegiatan ekstrakurikuler, diantaranya:

a.       Pramuka

b.      Olahraga

c.       Seni tari

B. Pelaksanaan Metode Keteladanan dalam Proses Belajar Mengajar di SD Negeri Kambangan 01

1.      Bentuk-bentuk Keteladanan

a.       Keteladanan disengaja

Keteladanan disengaja adalah keteladanan yang berlangsung dipraktekkan oleh pendidik baik melalui perkataan maupun perbuatan yang dapat dijadikan contoh oleh peserta didik. Perkataan pendidik harus sopan dan menggunakan bahasa yang baik, sedangkan perbuatan pendidik harus mencerminkan bahwa pendidik itu memiliki sikap yang baik.

Bentuk-bentuk keteladanan yang disengaja di SD Negeri Kambangan 01, berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis diantaranya, peserta didik berjabat tangan dengan pendidik sebelum dan sesudah pelaksanaan proses belajar mengajar, memberitahu secara langsung kepada peserta didik agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma kesusilaan, menggunakan bahasa yang baik dan sopan, pendidik memberikan contoh untuk membaca yang baik agar peserta didik menirunya, dan memberikan nasihat agar menghormati orang yang lebih tua. Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci bentuk-bentuk keteladanan disengaja di SD Negeri Kambangan 01:

1)      Peseta didik berjabat tangan dengan pendidik sebelum dan sesudah pelaksanaan proses belajar mengajar.

Bentuk keteladanan disengaja yang dirancang oleh pendidik cukup bagus. Peserta didik dibiasakan untuk berjabat tangan dengan pendidik sebelum dan sesudah proses belajar mengaajar. Dengan cara ini pendidik berharap, peserta didik akan terbiasa melakukan hal-hal yang baik dan terbiasa untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.

Kebiasaan tersebut mudah-mudahan akan selalu tertanam pada diri peserta didik baik di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Memberi tahu cara langsung kepada peserta didik agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma kesusilaan.

Pergaulan zaman sekarang berbeda dengan pergaulan zaman dahulu yang masih mengedepankan norma-norma kesusilaan. Seorang anak yang beriman di rumah teman sampai tidak pulang ke rumah, katanya itu biasa. Hamil di luar nikah itu katanya modern. Itulah bentuk pergaulan di era globalisasi sekarang ini. Pendidik berharap agar peserta didik tidak terjebak ke dalam pergaulan yang sesat dan tidak lagi mengedepankan norma-norma kesusilaan. Pendidik akan sangat sedih dan merasa gagal dalam mendidik peserta didik jika ada satu peserta didik yang terjebak ke dalam pergaulan tersebut.

Pendidik bisa memberi tahu secara langsung kepada peserta didik agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma kesusilaan. Dengan materi sebagai perantara dalam pentransferan norma-norma kesusilaan. Bisa juga melalui kondisi yang diciptakan oleh peserta didik, misalnya ada salah satu peserta didik yang mencontek dan kejadian itu diketahui oleh pendidik, pada saat itulah pendidik bisa memanfaatkan peristiwa tersebut, dengan menasihati peserta didik yang lain bahwa mencontek itu adalah perbuatan yang tidak baik dan tidak patut untuk ditiru.

2)      Menggunakan bahasa yang baik dan sopan.

Bahasa adalah media perantara yang dapat mempererat hubungan seorang dengan orang lain. Oleh karena itu setiap orang harus mempunyai bahasa yang baik dan sopan. Jika tidak akan ada banyak masalah yang akan timbul karena penggunaan bahasa yang tidak baik.

Menurut Ibu R. Ambar S., bahwa seorang pendidik itu harus menggunakan bahasa yang baik dan sopan terhadap peserta didik. Karena hal itu akan berpengaruh terhadap akhlak peserta didik. Peserta didik akan terbiasa berbicara dengan bahasa yang baik dan sopan karena melihat pendidiknya selalu menggunakan bahasa yang sopan pula[31].

Senada dengan Ibu R. Ambar S., Ibu Wiwik Windatirningsih mengatakan bahwa pendidik yang baik itu harus menggunakan bahasa yang sopan kepada para peserta didik dan akhirnya peserta didik akan meniru apa yang dilakukan oleh pendidiknya. Selain itu, bu Wiwik Windatirningsih menambahkan bahwa selain pendidik harus menggunakan bahasa yang sopan, pendidik harus berpakaian yang rapi. Pakaiannya disetrika dan wangi. Jangan sampai seorang pendidik ketika berhadapan dengan peserta didik dalam keadaan yang tidak rapi[32].

Penggunaan bahasa yang baik dan tidak baik, akan meperlihatkan wajah asli dari seorang pendidik. Dari cara berbicara, orang juga akan mudah menebak sifat yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu juga dengan seorang pendidik. Apabila dia memiliki bahasa yang baik dan sopan, pendidik itu pasti akan dengan mudah mentransfer nilai-nilai kesusilaan pada peserta didik, sedangkan pendidik yang tidak menggunakan bahasa yang baik dan sopan, di samping sulit mentransfer nilai-nilai kesusilaan, juga tidak patut dijadikan sebagai seorang pendidik.

Berhubung di SD Negeri Kambangan 01 masih mengutamakan bahasa jawa khususnya bahasa  jawa kromo inggil, selain bahasa Indonesia, peserta didik juga harus menguasai bahasa jawa kromo inggil. Bahasa yang sekarang sedikit demi sedikit hilang dari komunitas orang jawa. Bahasa jawa kromo inggil tergeser dengan bahasa Internasional yaitu bahasa Inggris yang sudah mulai dikuasai anak Sekolah Dasar (SD).

3)      Memberikan nasihat agar peserta didik selalu menghormati orang yang lebih tua.

Orang yang lebih muda diwajibkan menghormati orang yang lebih tua, sedangkan orang yang lebih tua diwajibkan untuk menyayangi yang lebih muda. Menurut bapak Rahmad, di sekolah peserta didik diwajibkan untuk menghormati pendidik dan menghormati kakak kelas. Peserta didik juga harus saling menyayangi antar peserta didik yang lain. Tidak boleh bertengkar dan saling memojokkan antar peserta didik satu dengan peserta didik yang lain[33].

Prinsip orang sekarang, seorang pendidik itu harus lebih bisa memahami peserta didik, dengan cara menganggap peserta didik sebagai teman, agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar. Ada segi positif dan negatif yang dapat diambil. Segi positifnya, akan tercipta hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik. Segi negatifnya, tidak menutup kemungkinan peserta didik semakin kurang ajar terhadap pendidik.

b.      Keteladanan tidak disengaja

Keteladanan tidak disengaja adalah keteladanan yang tidak direncanakan terlebih dahulu dan keteladanan ini tidak dibuat-buat oleh pendidik. Keteladanan tidak disengaja memang 100% berasal dari dalam diri pendidik. Tidak hanya Putri Indonesia saja yang memiliki inner beauty, tapi pendidik juga harus memilikinya. Hal ini sangat penting, agar peserta didik memang memiliki panutan yang tepat.

Bapak Santoso mengatakan, bahwa seorang pendidik itu harus memiliki sifat, sikap dan perilaku yang baik. Sifat yang dimiliki oleh pendidik harus bisa dijadikan contoh oleh para peserta didik. Pendidik juga harus bersikap dan berperilaku mawas diri. Berhati-hati dalam bersikap[34].

Keteladanan tidak disengaja tergantung pada kualitas yang dimiliki oleh pendidik. Pendidik tersebut memiliki kualitas keilmuan yang baik, berwibawa, dan memiliki akhlak yang baik. Akan berdampak positif bagi peserta didik dan patut dijadikan contoh oleh para peserta didik.

Menurut Iqbal Fahreza, peserta didik yang duduk di kelas V SD Negeri Kambangan 01, pendidik SD Negeri Kambangan 01 memiliki sifat, sikap dan perbuatan yang baik. Bahasa yang di gunakan juga baik, kadang-kadang juga menggunakan bahasa Kromo Inggil, baik dengan para pendidik dan juga dengan peserta didik. Mereka sopan-sopan, tetapi ada juga yang  galak.[35]

 

 

 

2.      Upaya-upaya dalam mengatasi hambatan dalam menggunakan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01

a.       Meminta dukungan orang tua

Upaya-upaya dalam mengatasi hambatan daam menggunakan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01 salah satunya dengan meminta dukunga orang tua.

Tanpa meremehkan dan merendahkan posisi orang tua, yang tentunya selalu memperhatikan pendidikan akhlak peserta didik. Hanya saja perlu ditingkatkan lagi pengawasannya dan selalu memperhatikan kemana saja mereka pergi serta mengharuskan peserta didik untuk meminta izin ketika akan bermain bersama temannya. Upaya tersebut dapat dilakukan ketika ada rapat-rapat yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Pada saat itulah momentum yang tepat bagi pendidik untuk memberikan pengarahan kepada orang tua peserta didik agar mempunyai kesadaran bahwa mereka adalah pendidik utama bagi anak-anaknya, salah satunya dalam hal akhlak.[36] Upaya lain dapat dilakukan pendidik dengan mendatangi rumah peserta didik yang sedikit bermasalah dan berbicara secara langsung pada orang tua peserta didik.

Pendidik berharap, orang tua dapat menggunakan waktu semaksimal mungkin dalam mendidik peserta didik. Karena waktu yang dihabiskan peserta didik lebih banyak di rumah, karena di sekolah hanya beberapa jam saja. Pendidik juga menghimbau agar orang tua tidak terlalu memanjakan peserta didik dengan selalu menuruti semua yang peserta didik inginkan.

b.      Memberikan pengarahan kepada peserta didik.

Tingkah laku peserta didik tidak selalu mengarah pada hal-hal yang bersifat positif, pasti ada penyimpangan yang dilakukan oleh peserta didik, bisa disebabkan karena pergaulan sehari-hari maupun dampak atas kemaua teknologi yang semakin pesat. Penyimpangan tersebut dapat menyebabkan situasi di sekolah tidak begitu baik. Ada satu saja peserta didik tidak patuh pada tata tertib sekolah, itu aka langsung menular pada peserta didik yang lain.

Situasi tersebut menuntut pendidik untuk memberikan pengarahan kepada peserta didik pada setiap saat baik pada saat penyampaian materi maupun ada saat terjadi penyimpangan. Misalnya, ada salah satu peserta didik yang tertangkap basah mencontek pada saat ulangan. Pendidik bisa langsung memberikan pengarahan bahwa yang dilakukan oleh teman kalian adalah perbuatan yang tidak patut dicontoh.[37]

c.       Bekerja sama dengan seluruh pihak sekolah.

Pendidikan akhlak bagi peserta didik selama di sekolah menjadi tanggung jawab seluruh pihak sekolah. Pendidik adalah orang tua kedua setelah ayah dan ibu di rumah. Menurut bapak Rahmad, pendidikan akhlak tidak harus dibebankan pada pendidik yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) saja, tapi semua pendidik, karyawan sekolah serta tidak kalah pentingnya adalah peran serta kepala sekolah[38].

Senada dengan Bapak Rahmad, Ibu R. Ambar S., mengatakan semua pendidik harus bekerja sama dalam mensukseskan program pembentukan kepribadian peserta didik yang bermoral dan berakhlak mulia serta berguna bagi nusa dan bangsa. Tidak hanya memberikan tugas tersebut sepenuhnya pada pendidik yang mengampu mata pelajaran tertentu, tapi juga semua pendidik dari semua mata pelajaran atau semua pendidik dari kelas I sampai kelas VI. Mereka dapat menggunakan bahasa dan cara yang berbeda dalam penyampaian materi-materi keteladanan pada peserta didik[39].

Cara yang dilakukan oleh pendidik lain, yang materinya tidak berhubungan secara langsung dengan pendidikan keteladanan, seperti matematika, bahasa inggris, seni budaya dan ketrampilan, dan lain sebagainya, bisa memanfaatkan situasi yang terjadi pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Upaya pihak sekolah mengenai pendidikan keteladanan, yaitu dengan cara menyusun program-program keteladanan yang dapat direalisasikan oleh peserta didik. Program tersebut dimaksudkan agar peserta didik dapat mengalami perubahan yang signifikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

3.      Faktor Pendukung dan Penghambat Metode Keteladanan di SD Negeri Kambangan 01.

a.       Faktor Pendukung

1)      Orang tua

Pendidik utama yang mengajarkan akhlak kepada peserta didik adalah orang tua. Menurut Kepala Sekolah SD Negeri Kambangan 01 yaitu bapak Sadiman, orang tua adalah pendidik yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan akhlak peserta didik dan hukumnya wajib bagi orang tua untuk mendidik akhlak pada anaknya, walaupun di sekolah pendidik akan membantu orang tua dalam mendidik akhlak pada peserta didik, tapi pendidik tidak bisa sepenuhnya mengemban tersebut, karena waktunya terbatas. Waktu sepenuhnya dimiliki oleh orang tua. Peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tua[40].

Waktu yang lama dengan orang tua sebenarnya masih terbagi lagi, digunakan peserta didik untuk bermain bersama teman. Dalam keadaan seperti inilah, peserta didik terkontaminsai dengan dunia luar. Akan lebih sulit untuk dinasihati oleh orang tua. Semua yang dikatakan oleh orang tua, dirasa semuanya salah di mata peserta didik, begitu juga di sekolah semua yang dikatakan pendidik tidak pernah dihiraukan. Peserta didik merasa bahwa dia selalu benar. Hal ini dikarenakan peserta didik lebih suka mengikuti dan meniru temanya dan menjadikanya seorang idola. Meniru semua yang dilakukan temanya, tanpa menyaring terlebih dahulu, apakah yang mereka tiru adalah hal yang baik atau tidak. Oleh sebab itu, tugas orang tua adalah berusaha lebih keras agar menjadi yang terbaik agar peserta didik mengidolakan orang tuanya tersebut.

2)      Pendidik.

Faktor pendukung pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar salah satunya adalah pendidik. Suatu metode dapat berhasil, jika pendidik sangat menguasai metode tersebut. Dalam hal ini agar metode keteladanan dapat berhasil guna, yaitu dengan cara pendidik dapat merealisasikan apa yang sudah diajarkannya. Jadi, tidak hanya teori, tetapi juga harus ada praktek yang nyata dari pendidik.

Pendidik yang mengajarkan keteladanan, maka pendidik tersebut harus memiliki sifat, sikap dan perilaku yang baik. Mereka harus selalu mawas diri. Bahwa semua yang dilakukannya akan ditiru oleh peserta didik.Walaupun tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi setidaknya pendidik harus berhati-hati dalam bertindak.

Pendidik SD Negeri Kambangan 01 memiliki kreatifitas yang cukup tinggi dalam memberikan pendidikan akhlak pada peserta didik. Semua pendidik SD Negeri Kambangan 01 sepakat bahwa pendidikan akhlak tidak di bebankan pada pendidik yang mengampu mata pelajaran PAI, tapi seluruh pendidik yang mengampu mata pelajaran selain PAI, juga ikut berperan aktif dalam pemberian pendidikan akhlak kepada peserta didik. Seperti yang di katakana salah satu pendidik SD Negeri Kambangan 01 yaitu Ibu R. Ambar. S., pendidikan akhlak itu tidak sepenuhnya di bebankan pada pendidik yang mengampu mata pelajaran PAI saja, tapi semua pendidik harus turut serta dalam pendidikan akhlak tersebut, kalau tidak begitu pentransferan nilai-nilai kesusilaan tidak berjalan secara maksimal.

Sehubungan dengan materi keteladanan tersebut hanya ada dalam mata pelajaran PAI, sedangkan mata pelajaran yang lain seperti, matematika, bahasa Inggris, dan lain-lain itu tidak ada, maka pendidik di tantang untuk lebih kreatif dalam penyampaian nilai-nilai kesusilaan kapada para peserta didik. Karena meski seperti itu mereka memang sudah sepakat, bahwa pendidikan akhlak adalah tugas semua pendidik tanpa terkecuali seluruh karyawan SD Negeri Kambangan 01. Pendidik akan menyelipkan nilai-nilai keteladanan dalm setiap meteri yang diajarkan.[41]

3)      Materi (bahan ajar)

Materi ikut berperan aktif dalam keberhasilan pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar. Menurut Ibu R. Ambar S., pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar tanpa adanya materi. Ketika penyampaian materi dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pendidik akan mudah melakukan pentransferan nilai-nilai kesusilaan dalam proses belajar mengajar karena PAI memang banyak materi yang berhubungan dengan keteladanan.[42]

Mata pelajaran lain yang memiliki keterkaitan dengan keteladanan adalah mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), yang di dalamnya memuat materi diantaranya tentang  toleransi dan tenggang rasa.

Nilai-nilai keteladanan harus selalu ada dalam setiap  mata pelajaran dalam materi apapun. Hal itu sangat penting, agar paserta didik selalu ingat, bahwa pendidikan akhlak itu sangat penting bagi peserta didik. Orang yang pintar adalah orang yang mampu menggunakan ilmunya dengan baik. Ilmunya tersebut dapat membuat dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

4)      Lingkungan

Lingkungan sangat berpengaruh dalam berhasil tidaknya pelaksanaan metode keteladanan. Selain orang tua peserta didik, lingkungan memiliki andil yang besar dalam pembentukan kepribadian peserta didik. Menurut Ibu Wiwik Windartiningsih, lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekolah, harus memberikan contoh-contoh yang baik bagi peserta didik. Lingkungan yang baik akan menciptakan peserta didik yang baik pula.[43] Anak yang terlahir dari keluarga yang baik dan hidup di lingkungan yang baik, akan menjadi anak yang baik pula.

Jadi, tidak salah kalau ada orang tua melihat lingkungannya terlebih dahulu baik atau tidak sebelum memutuskan untuk tinggal di lingkungan tersebut. Lingkungan dibagi menjadi tiga, lingkungan rumah, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Orang tua yang sudah memberikan pendidikan akhlak kepada peserta didik, diharapkan lingkungan juga ikut mendukung, karena ini semua ini bukan untuk kepentingan pribadi tetapi kepentingan bersama demi terciptanya generasi bangsa yang berakhlak mulia.

Lingkungan lebih banyak berdampak negatif daripada berdampak positif. Lingkungan itu ada yang baik ada juga yang tidak baik. Di sinilah, peserta didik dituntut untuk lebih tetili dalam memilih mana lingkungan yang baik dan mana lingkungan yang tidak baik.

 

b.      Faktor Penghambat

1)      Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang berasal dari luar diri peserta didik. Lingkungan tersebut bisa jadi berasal dari teman, dan dari lingkungan masyarakat, seperti tetangga yang memiliki perangai yang tidak baik. Lingkungan ikut berperan dalam pembentukan kepribadian peserta didik.

Menurut Ibu R. Ambar S., faktor penghambat dalam pelaksanaan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01 dikarenakan peserta didik bergaul dengan anak yang memiliki akhlak tidak baik[44]. Peserta didik yang baik, bisa saja berubah dikarenakan berteman dengan peserta didik yang malas, pembuat masalah dan sering membolos sekolah. Berhubung perserta didik belum bisa memilah-milah mana yang seharusnya dicontoh dan mana yang tidak patut dicontoh, akhirnya peserta didik yang baik tersebut bisa berubah menjadi seperti temanya tersebut. Padahal pendidik tidak bosan-bosan mengajari peserta didik dengan hal-hal yang baik.

Tetangga bisa juga berdampak negatif bagi peserta didik. Tetangga yang suka mabuk-mabukan dan selalu manghabiskan waktu untuk bermain. Peserta didik bisa juga terpengaruh dengan kebiasaan tetangganya tersebut. Kebiasaan tersebut akan terbawa sampai ke sekolah. Peserta didik akan menjadi anak yang malas, tidak bergairah dalam mengikuti proses belajar mengajar karena hanya melamun dan bermain-main di dalam kelas.

2)      Kemajuan Teknologi

Era globalisasi ditandai dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat dari tahun ke tahun. Ciri-ciri kemajuan tekbologi yaitu ditandai dengan menjamurnya pusat permainan Play Station, Warung Internet, dan Hand Phone. Barang elektronik tersebut, sekarang bisa dinikmati semua kalangan dari orang dewasa sampai anak-anak.

Penyebab kemerosotan akhlak peserta didik salah satunya disebabkan maraknya Play Station, Hand Phone, dan Warung Internet. Peserta didik yang masih Sekolah Dasar (SD), yang biasanya belum bisa membagi waktu dan belum bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.

Setelah peserta didik mengenal Play Station, semua waktunya hanya dihabiskan untuk bermain Play Station, mereka lupa bahwa tugasnya tidak hanya bermain, tapi juga harus belajar, mengaji, dan juga harus istirahat. Selain Play Station, televisi juga virus yang membahayakan peserta didik. Sama halnya dengan narkoba, televisi akan membuat penikmatnya kecanduan dan tidak kuasa melepasnya. Hand Phone juga begitu, sekali saja menggunakan Hand Phone, peserta didik tidak akan mudah terlepas barang canggih tersebut terlepas dari barang cangih tersebut. Layanan yang tersedia di Hand Phone juga semakin banyak, terdapat layanan internet, yang tidak perlu lagi pergi ke warung internet.

Sekarang, banyak sekali gambar-gambar porno, yang mudah di akses di Hand Phone. Menurut Ibu Mardi Juniarti, itulah hal yang merusak moral peserta didik, berhubung banyak peserta didik yang mempunyai Hand Phone, sehingga secara tidak langsung mereka mengkonsumsi gambar-gambar porno tersebut. Seharusnya, peserta didik yang masih duduk di bangku SD, tidak perlu dibelikan Hand Phone, karena tidak ada manfaatnya bagi peserta didik[45].

Perbedaan dalam hal akhlak antara peserta didik zaman dahulu dengan peserta didik sekarang sangat menonjol. Salah satu penyebabnya adalah adanya kemajuan teknologi. Ibu Wiwik Windatirningsih, mengatakan selain itu makanan juga menjadi faktor penyebab kemerosotan akhlak peserta didik karena di dalam makanan banyak sekali zat-zat yang membahayakan dan akhirnya akan berakibat buruk pada kepribadian peserta didik[46].

 

 

BAB IV

ANALISIS PELAKSANAAN METODE KETELADANAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SD NEGERI KAMBANGAN 01

A. Bentuk-bentuk keteladanan di SD Negeri Kambangan 01

Pembinaan pribadi-pribadi adalah hal yang terpenting dalam masyarakat Islam, terutama pembinaan akhlak pada usia anak. Mengingat betapa pentingnya pendidikan akhlak sejak dini bagi anak, maka perlu adanya penanaman nilai-nilai keagamaan semenjak anak-anak, dengan ajaran yang benar sesuai dengan tuntunan agama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Sarana yang paling tepat untuk pembinaan dan pembentukan kepribadian manusia adalah melakukan pendidikan.

Di dalam lembaga pendidikan, tanggung jawab pendidikan akhlak dan pendidikan lainya untuk peserta didik dipegang oleh semua pendidik. Oleh karena itu pembinaanya harus dilakukan semua pendidik. Pendidik perlu memiliki kemampuan dalam proses pembelajaran, disamping kemampuan kepribadian dan kemampuan kemasyarakatan.

67

Metode yang dipandang tepat dalam pembentukan akhlaqul karimah adalah metode keteladanan. Metode ini sangat efektif diterapkan dalam pembelajaran akhlak, untuk itu pendidik hendaknya menjadi teladan utama bagi peserta didik dalam segala hal, misalnya kelembutan dan kasih sayang, banyak senyum dan ceria, lemah lembut dalam tutur kata, disiplin ibadah dan menghias diri dengan tingkah laku yang baik.

Metode keteladanan adalah suatu metode dengan cara memberikan teladan yang baik. Keteladanan dapat diajarkan secara langsung melalui kata-kata kepada para peserta didik atau disebut dengan keteladanan disengaja. Selanjutnya keteladnan yang secara spontan keluar dari dalam diri pendidik, karena pendidik memiliki sifat, sikap dan perilaku yang mencerminkan keteladanan yang baik bagi peserta didik. Itulah yang disebut keteladanan tidak disengaja

Kedua keteladanan tersebut berdasarkan observasi yang dilakukan oleh penulis  selalu digunakan dalam pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD Negeri Kambangan 01. Bentuk keteladanan disengaja yang ditampilkan oleh pendidik SD Negeri Kambangan 01 diantaranya: peserta didik harus menggunakan bahasa yang baik dan sopan, berjabat tangan dengan pendidik sebelum dan sesudah proses belajar mengajar berlangsung, dan peserta didik harus menghormati orang yang lebih tua. Keteladanan disengaja yang selalu pendidik ajarkan kepada peserta didik, berjalan dengan lancar dan sukses. Peserta didik menjadi anak yang sopan dan tahu tata krama, sebagaimana seharusnya bersikap terhadap orang yang lebih tua dan orang yang lebih muda. [47]

 

 

 

 

B. Upaya-upaya dalam Mengatasi Hambatan dalam Menggunakan Metode Keteladanan di SD Negeri Kambangan 01.

1.      Meminta Dukungan Orang tua.

Setiap orang ingin memberikan pelajaran dan pendidikan akhlak kepada anaknya, supaya anaknya tersebut memperoleh kehidupan yang lebih baik. Karena moral itulah yang akan membentuk tingkah laku dalam kehidupannya. Sikap seperti itu secara alami di miliki oleh semua orang tua di dunia ini.

Pendidik yang mengajar dari kelas I-VI, ketika pengambilan rapor, juga selalu memberikan pengarahan kepada orang tua peserta didik agar selalu meningkatkan pengawasan kepada para peserta didik berkenaan dengan tingkah lakunya sehari-hari dan menyuruh peserta didik agar selalu giat belajar, mengurangi jam bermain, agar meminimalkan pergaulan peserta didik dengan dunia luar yang lebih banyak memberikan dampak negatif bagi peserta didik.[48]

Orang yang pertama dan utama yang bertanggung jawab tentang pendidikan akhlak terhadap anak-anaknya adalah orang tua. Hal ini pun diakui dunia pendidikan. Kedua orang tualah yang meletakkan dasar-dasar akhlak pada si anak yang belum mengetahui tentang akhlak ini. Keteladanan menduduki posisi strategis dalam pendidikan anak. Faktor keteladanan mempunyai pengaruh besar pada perilaku dan mental anak, sebab biasanya anak akan meniru kedua orang tuanya, bahkan kedua orang tuanya akan mencetak perilaku paling kuat bagi perkembangan perilaku dan mental anak.

Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka pendidik SD Negeri kambangan 01, meminta dukungan orang tua dalam upaya-upaya mengatasi hambatan dalam menggunakan metode keteladanan. Setiap ada acara yang diselenggarakan oleh pihak sekolah, seperti rapat, adalah momen penting yang digunakan pendidik untuk meminta dukungan pada orang tua peserta didik, agar lebih meningkatkan lagi pengawasan terhadap peserta didik di rumah. Bahwa orang tua harus benar-benar memberikan pendidikan akhlak pada anaknya. Jangan sampai orang tua membiarkan anaknya melakukan sesuatu dengan semaunya sendiri, dan orang tua tidak mengawasinya. Membiarkan peserta didik tumbuh sendiri, tanpa ada orang yang mengawasinya dan memberikan pengarahan sekaligus nasihat tentang semua perbuatan yang dilakukannya. Jika hal itu terjadi, peserta didik akan tumbuh menjadi anak yang liar dan tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar.

Biasanya sifat yang dimiliki oleh seorang anak itu karena memang orang tuanya memiliki sifat tersebut. Contohnya, seorang anak yang pembohong, pemberani, suka menindas orang yang lemah, pasti orang tuanya juga memiliki sifat tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat aliran nativisme yang mengatakan, bahwa perkembangan individu itu semata-mata ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir, jadi perkembangan individu itu semata-mata tergantung kepada dasar. Lain halnya dengan pendapat aliran empirisme yang mengatakan bahwa perkembangan itu semata-mata tergantung kepada faktor lingkungan, sedangkan dasar tidak memainkan peranan sama sekali.

Tetapi penulis lebih setuju dengan pendapat aliran konvergensi yang mengatakan bahwa di dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.

2.      Memberikan pengarahan pada peserta didik secara terus menerus

Pendidik melakukan berbagai upaya dalam mengatasi hambatan dalam menggunakan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01 adalah dengan memberikan pengarahan pada peserta didik secara terus menerus, baik di luar proses belajar mengajar maupun ketika proses belajar mengajar berlangsung. Bahwa hal-hal yang tidak baik itu tidak perlu untuk dicontoh, contohlah hal-hal yang baik dan terpuji. Walaupun pendidik dikatakan cerewet, tapi itu berbuah manis bagi peserta didik. Sering diberi pengarahan, diberi nasihat, dan diperingatkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak baik, peserta didik menjadi anak yang tahu mana yang baik dan buruk. Mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak harus dikerjakan. Yang harus dilakukan oleh pendidik adalah terus menerus tanpa henti tanpa bosan-bosannya memberikan nasihat pada peserta didik.[49]

3.      Bekerja sama dengan seluruh pendidik dan karyawan di SD Negeri Kambangan 01.

Peserta didik sangat membutuhkan keteladanan yang baik dimana pun mereka berada, karena sebagian besar hasil pembentukan kepribadian anak adalah keteladanan yang diamati dari para pendidiknya.

Di sekolah, pendidik dan teman sepermainan menjadi objek utama mereka, mana yang akan ditiru dan dijadikan teladan oleh peserta didik. Maka semua pihak sekolah wajib memberikan contoh yang baik pada peserta didik.

Hasil yang didapatkan cukup bagus, peserta didik memiliki akhlak yang baik, karena semua pihak di sekolah ikut bekerja sama memberikan contoh yang baik pada peserta didik. Peserta didik senantiasa berbicara dengan sopan dengan para pendidik, bertingkah laku sopan dan mematuhi tata tertib sekolah.

Keberhasilan dunia pendidikan diantaranya adalah sejauh mana pendidik dan stakeholders lainya secara padu ikut bertanggung jawab pada peserta didik demi terwujudnya peserta didik yang berkepribadian baik dan berakhlaqul karimah.[50]

C. Faktor Pendukung dan Penghambat Pelaksanaan Metode Keteladanan di SD Negeri Kambangan 01

a.       Faktor Pendukung

1)      Orang tua

Faktor pendukung pelaksanaan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01, salah satunya adalah orang tua. Orang tua berperan aktif dalam pembentukan watak anak yang berakhlak mulia. Bahwa setiap bayi yang lahir ke dunia ini tergantung pada orang tuanya. Orang tuanya yang menjadikan bayi itu sebagai Yahudi atau Nasrani, atau Majusi. Karena bayi itu lahir dalam keadaan suci. Bayi itu dilahirkan bagaikan papan kosong yang akan meniru apa yang akan ditanamkan oleh kedua orang tuanya. Keteladanan tidak berhenti pada areal tanggung jawab orang tua pada anak. Keteladanan adalah sebuah keharusan maka orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya.

Tanggung jawab pendidikan yang perlu dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain; memelihara dan membesarkannya, melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya, mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain serta melaksanakan kekhalifahannya, membahagiakan anak dunia dan akherat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.

Wawancara yang dilakukan penulis kepada kepala sekolah sekaligus pendidik yang mengampu Mata Pelajaran PKn, Bapak Sadiman, mengatakan orang tua adalah pendidik yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan akhlak anaknya dan hukumnya wajib bagi orang tua untuk mendidik akhlak pada anaknya.[51]

Orang tua dituntut lebih hati-hati dalam memberikan contoh pada anaknya. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi karena keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak. Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A dan ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang ada, metode keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Di bawah ini akan dibahas fakta tentang pendidikan di rumah, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak.

Pertama, cara mendidik anak di dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah. Jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya di rumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu dihadapi, bahwasanya pendidikan di rumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.

Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya. Apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi-generasi yang berkepribadian Islam. Atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh dan sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah karena mereka nanti adalah asset yang sangat berharga baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggaan keluarga, sedangkan di akhirat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh dan sholehah.

 

Keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak untuk mereka asuh dengan baik dan, maka orang tua harus menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya. Orang tua harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini.

Ketiga, untuk mampu menjadi uswatun khasanah. Syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal untuk anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.

2)      Pendidik

Wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada salah satu pendidik SD Negeri Kambangan 01 yaitu, Ibu R. Ambar S.,  Pendidikan akhlak itu tidak sepenuhnya di bebankan pada pendidik yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam saja mbak, tapi semua pendidik harus turut serta dalam  pendidikan akhlak tersebut, kalau tidak begitu pentrasferan nilai-nilai kesusilaan tidak akan berjalan secara maksimal .[52] Itulah kesadaran yang di miliki oleh para pendidik SD Negeri Kambangan 01 akan pentingnya pendidikan akhlak yang harus di ajarkan kepada para peserta didik, melihat keadaan yang sekarang terjadi di seluruh belahan dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya yaitu terjadinya kemerosotan akhlak para pemuda dan pemudinya yang nyaris tidak mempunyai sopan santun lagi. Hal itu cukup berdampak baik kepada para peserta didik di SD Negeri Kambangan 01. Mereka  sadar akan pentingnya akhlak  dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan di dalam lingkungan sekolah. Agar hubungan antar sesama manusia dapat berjalan secara lancer dan harmonis.

Keunggulan lain yang di miliki oleh pendidik SD Negeri Kambangan 01 yaitu terdapat pada kreativitas dalam pemberian pendidikan akhlak kepada peserta didik walaupun mata pelajaran yang mereka ajarkan bukan mata pelajaran yang memiliki materi khusus tentang keteladanan seperti mata pelajaran PAI. Mereka cukup menguasai keadaan kelas agar pendidikan akhlak dapat berjalan dengan lancar.

3)      Materi (bahan ajar)

Faktor pendukung pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar adalah materi. Pendidik yakin melalui materi, pendidikan akhlak dapat diberikan kepada peserta didik. Banyak sekali materi yang berhubungan dengan keteladanan, diantaranya materi tentang toleransi, kisah nabi, kedisiplinan dan sebagainya. Melalui materi yang diajarkan tersebut peserta didik menjadi paham akan hal-hal yang baik itu seperti apa, perbuatan yang tercela itu tidak patut untuk ditiru, bagaimana bersikap, dan lain-lain.

Penyampaian keteladanan melalui materi adalah cara yang mudah diserap oleh peserta didik. Apalagi, penyampaiannya dibuat sangat menarik, bisa ditambahkan nyanyian dan dongeng-dongeng yang sangat menarik, bisa ditambahkan nyanyian dan dongeng-dongeng yang sarat akan keteladanan, jika peserta didik masih anak-anak, atau bisa juga dengan permainan yang mendidik peserta didik akan sangat menikmati proses pembelajaran, tidak merasa tegang, tapi nilai-nilai kesusilaan dapat benar-benar tertanam dalam benak peserta didik.

Materi tentang keteladanan, sebaiknya diperbanyak pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan   pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), sebagai tonggak dasar pendidikan akhlak. Jadi, tidak hanya pelajaran yang hanya mengedepankan kecerdasan otak saja yang selalu di tambah jam pelajarannya, tapi juga pelajaran yang mengedepankan akhlak, yang akhirnya akan membentuk manusia yang bermoral dan memiliki otak yang cerdas.[53]

 

 

 

b.      Faktor penghambat

1.      Lingkungan

Menurut Ibu R. Ambar S., faktor penghambat pelaksanaan metode keteladanan di SD Negeri Kambangan 01dikarenakan peserta didik bergaul dengan anak yang memiliki akhlak rusak atau akhlak yang tidak baik. Peserta didik terbawa ke lingkungan yang tidak baik, karena peserta didik berteman dengan teman yang tidak baik pula. Peserta didik meniru semua yang dilakukan oleh temannya, meskipun yang ditirunya tersebut adalah hal yang tidak baik, karena peserta didik yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, biasanya belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.[54]

Lingkungan memang sangat berperan dalam pembentukan kepribadian peserta didik, kalau lingkungan peserta didik itu baik, maka akan baik pula kepribadian peserta didik. Lingkungan peserta didik di sekolah, berasal dari para pendidik dan teman-temannya. Jadi, baik buruknya kepribadian peserta didik tergantung pada lingkungan yang berada di sekitar peserta didik.

2.      Kemajuan Teknologi

Ibu Mardi Juniarti mengatakan, faktor yang menghambat pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di sebabkan adanya kemajuan teknologi yang pesat. Teknologi yang pesat ditandai dengan menjamurnya laptop, hand phone, dan play station. Layanan yang tersedia memang cukup banyak dan bermanfaat bagi pemakainya, tapi banyak juga layanan yang tidak bermanfaat dan cenderung moral pemakainya.[55]

Kemajuan teknologi juga berdampak pada perilaku masyarakat seiring dengan kemajuan IPTEK, hal ini memberi dampak yang sangat besar terhadap perilaku masyarakat yang semakin menjurus terhadap hal-hal yang bersifat negatif. Pola –pola perilaku masyarakat memiliki kecenderungan melenceng dari koridor-koridor akhlak mulia.

Pada masa modern sekarang ini terjadi pergeseran nilai-nilai pada setiap ruas-ruas dan sendi-sendi kehidupan manusia. Pada hakikatnya Islam tidak menentang perubahan, kemajuan dan kemodernan. Namun sebaliknya, Islam mengharuskan umatnya untuk terus maju. Jaman modern merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan keteguhan iman dan prinsip yang kuat serta tidak merasa asing melihat pembaharuan dan kemajuan yang begitu pesat. Asalkan perubahan, kemajuan dan kemodernan tersebut mengarah ke hal yang positif.

Pada saat ini, hal yang harus diperhatikan secara serius yaitu fenomena yang dewasa ini muncul, yakni tentang dilema yang dihadapi oleh pendidikan model Barat. Di satu sisi, pendidikan model Barat terbukti berhasil secara maksimal mengeksploitasi potensi intelektual manusia sehingga kemudian melahirkan berbagai teknologi yang canggih. Namun di sisi lain, pendidikan model Barat melupakan, jika tidak mau disebut gagal, pengemban aspek moral-spiritual manusia. Alhasil, manusia modern dengan dunia teknologi berhasil diciptakan, akan tetapi jiwa-jiwa mereka mengalami krisis moral-spiritual.

SD Negeri Kambangan 01, memang tidak berada di kota besar. Ada manfaat positif dari hal ini, yaitu manfaat positifnya, peserta didik tidak begitu terkena dampak kemajuan jaman, seperti kemajuan teknologi yang membuat peserta didik  menjadi anak yang tidak mengenal budaya dan tidak tahu tata krama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasannya dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

1.      Bentuk-bentuk keteladanan dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan di SD Negeri Kambangan 01 diantaranya; membiasakan peserta didik untuk menggunakan bahasa yang baik dan sopan, berjabat tangan dengan pendidik sebelum dan sesudah proses belajar mengajar. Dari penerapan bentuk-bentuk keteladanan ini, peserta didik memiliki kebiasaan yang baik, sehingga secara otomatis peserta didik memiliki akhlak yang baik.

2.      Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi hambatan dalam proses belajar mengajar di SD Neger1 Kambangan 01 adalah dengan cara meminta dukungan orang tua, bekerja sama dengan seluruh pihak sekolah dan selalu memberikan pengarahan peserta didik yang diwujudkan dalam tata tertib sekolah.

3.

82

Faktor pendukung pelaksanan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD Negeri Kambangan 01 adalah orang tua, pendidik dan lingkungan. Orang tua memberikan manfaat yang cukup besar dalam mendukung pelaksanaan metode keteladanan baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua memiliki andil yang cukup besar dalam pembentukan kepribadian peserta didik di lingkungan keluarga, sedangkan factor penghambat pelaksanaan metode keteladanan dalam proses belajar mengajar di SD Negeri Kambangan 01 adalah lingkungan dan adanya kemajuan teknologi yang pesat. Kemajuan teknologi membuat generasi penerus bangsa memiliki khasanan keilmuan yang menakjubkan, tetapi disisi lain, akhlak mereka mengalami penurunan yang sangat drastic. Dulu peserta didik memiliki tingkat kesopanan yang tinggi, dibandingkan peserta didik sekarang

 

B. Saran

1.      Program-program tentang keteladanan sebaiknya diperbanyak. Karena melihat begitu pentingnya pendidikan keteladanan bagi peserta didik.

2.      Membuat program-program Islami, seperti sholat berjamaah dan program ceramah yang diisi oleh para pendidik SD Negeri Kambangan 01 setiap satu minggu sekali.

3.      Memberikan tambahan pelajaran, seperti BTQ kepada para peserta didik.

4.      Sebelum memulai pelajaran di wajibkan untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan bacaan tambahan yang lain seperti Asmaul Husna, agar rasa cinta peserta didik kepada Allah dan Nabi Muhammad semakin bertambah besar.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aly, Hery Noer. 1999. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Al-Nawawi, Imam. 1376 H. Shahih Muslim Syarahat Al-Kamilu lin-Nawawi. Diobend: Yasurnadin Ind Comparic Diobend.

Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan. Jakarta: Ciputat Pers

Arikunto, Suharsimi. 2005. Menejemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

A.R. Muhammad. 2003. Pendidikan di Alaf. Jogjakarta: Prima Sophie

Assegaf, Abdur Rahman. 2007. Pendidikan Islam di Indonesia. Yogyakarta: SUKA Press

Azwar, Syaefuddin. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1998. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta

Hamalik, Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Idi, Abdullah. dkk. 2006. Revitalisasi Pendidikan Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kartono, Kartini. 1999. Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja. Jakarta: CV Rajawali

Muchtar, Heri Jauhari. 2005. Fiqih Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Najati, Muhammad Ustman. 2004. Psikologi dalam Perspektif hadits, Terjemahan Zainuddin Abu Bakar, Al-hadits Wa’Ulum Al-Nafs. Jakarta: Pustska Al-Husna

Quthb, Muhammad. 1993. Sistem Pendidikan Islam. Bandung: PT AL-Ma’arif

Ramayulis. 2002. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia

Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Rosyid, Moh. 2006. Ketimpangan Pendidikan Langkah Awal Pemetaan Pantologi Pendidikan di Indonesia. Kudus: STAIN Press Kudus

Slameto. 1979. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Salatiga: Rineka Cipta FKIP UKSW

Usman, Basyiruddin. 2002. Metodologi Pembelajaran Agama Islam. Jakarta: Ciputat  Press


[1] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta : Ciputat Pers,2002), cet. ke-2 hlm.109

[2] Imam Al-Nawawi, Shahih Muslim Syarahat al-Kamilu Lin-Nawawi, (Diobend: Yasurnadin Ind Companic, Diobend, 1376 H), hlm. 332

[3] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002, cet. ke-2, hlm. 121-122

[4] Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam, (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1993), cet. ke-3, hlm. 325-332

[5] Muhammad Utsman Najati, Psikologi dalam Perspektif Hadits terjemahan Zainuddin Abu Bakar Al Hadits wa’ulum al-Nafs, (Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2004), hlm. 167

[6] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hlm. 466

[7] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002, cet. ke-2, hlm. 117

[8] Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), cet. ke-2, hlm. 178-180

[9] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1994), cet. ke-2, hlm. 46

[10] Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) hlm. 4

[11] Muhammad A.R, Pendidikan di Alaf baru, (Yogyakarta: Prima Sophie, 2003), hlm. 60

[12] Abdullah Idi, dkk., Revitalisasi Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 62

[13] Kartini Kartono, Patologi Sosial II: Kenakalan Remaja, (Jakarta: CV Rajawali, 1999), hlm. 56

[14] Ibid., hlm. 47

[15] Syaefuddin Azwar, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 5

 

[16] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 234

[17] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), cet.ke-11, hlm. 145

[18] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), cet.ke-11, hlm. 236

[19] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. Ke-3, hlm. 149

[20] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), hlm. 466

[21] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), cet.ke-2, hlm. 117

[22] Heri Jauhari Muchtar, Fiqih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 224

[23] Heri Jauhari Muchtar, Fiqih Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 224-225

[24] Moh. Rosyid, Ketimpangan Pendidikan Langkah Plural Pemetaan Pantologi Pendidikan di Indonesia, (Kudus: STAIN Press Kudus, 2006), hlm. 152

[25] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), cet. Ke-3, hlm. 26

[26] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hlm. 36

[27] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (salatiga : Rineka Cipta, FKIP UKSW, 1979), hlm. 2

[28] Basyirudin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002) hlm 19-20

[29] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2006), Cet. Ke-3, hlm. 43-5

[30] Dokumentasi SD Negeri Kambangan 01, diambil pada tanggal 23 Oktober 2010

[31] Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[32] Wawancara dengan Ibu Wiwik Windartiningsih, pendidik kelas IV SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 4 Nopember 2010.

[33] Wawancara dengan Bapak Rahmad, Pendidik yang mengampu Mata Pelajaran PAI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[34] Wawancara dengan Bapak Santoso, pendidik yang mengampu mata pelajaran PENJAS ORKES SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[35] Wawancara dengan Iqbal Fahreza peserta didik kelas V di SDN Kambangan 01 pada tanggal 22 Oktober 2010

[36] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 25 Oktober 2010

[37] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 25 Oktober 2010

[38] Wawancara dengan Bapak Rahmad, pendidik yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[39] Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[40] Wawancara dengan Bapak Sadiman, selaku Kepala Sekolah sekaligus pendidik yang mengampu mata pelajaran PKn SDN Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[41] Observasi yang dilakukan di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 29 Oktober 2010.

[42] Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[43] Wawancara dengan Ibu Wiwik Windartiningsih, pendidik kelas IV SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 4 Nopember 2010.

[44] Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[45] Wawancara dengan Ibu Mardi Juniarti, pendidik kelas I SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 4 Nopember 2010.

[46]Wawancara dengan Ibu Wiwik Windartiningsih, pendidik kelas IV SD Negeri  Kambangan 01 pada tanggal 4 Nopember 2010.

[47] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 22 Oktober 2010

[48] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 22 Oktober 2010

[49] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 22 Oktober 2010

[50] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 22 Nopember 2010

[51] Wawancara dengan Bapak Sadiman selaku Kepala Sekolah sekaligus pendidik yang mengampu mata pelajaran PKn di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[52] Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

[53] Observasi di SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 22 Oktober 2010

2 Wawancara dengan Ibu R. Ambar S, pendidik kelas VI SD Negeri Kambangan 01 pada tanggal 5 Nopember 2010.

3 Wawancara dengan Ibu Mardi Juniarti, pendidik kelas I SD Negeri Kambangan 01 pada 4 Nopember 2010.

About these ads